Adab Wali Santri Bisa Tentukan Keberkahan Ilmu Anaknya

Oleh : Nyai Hj. Ai Faridah

Pada saat ini terlihat bagaimana seakan-akan ilmu lebih mulia daripada adab. Telah banyak dan sangat mudah untuk kita bertemu dengan berbagai tulisan, opini, artikel, ceramah, vlog dan media-media yang lain tentang adab seorang murid kepada gurunya, telah banyak orang tua yang senantiasa menanamkan pentingnya adab kepada anaknya, namun tak jarang pula orang tua yang lupa-lalai bahkan tidak tahu bahwa mereka harus beradab kepada guru anaknya.

 

Maka sebagai wali murid/santri harus sadar bahwa kita telah menitipkan anak kita kepada guru anak kita dan telah mempercayai guru tersebut di pesantren/sekolah. Maka jika terjadi suatu ‘ketidakcocokan’ tabayyun lah yang akan berperan di situasi tersebut bukan emosional yang di kedepankan yang akhirnya bisa merusak harga diri kita sebagai wali murid/santri, guru, pesantren/sekolah, bahkan harga diri anak kita sendiri.

 

Dalam sebuah kisah inspiratif diceritakan ada seorang lelaki yang ingin memftnah Syekh Abdul Qadir al Jiilani, kemudian dia mengintip rumah Syekh Abdul Qodir melalui sebuah lubang, dan ketika itu syekh Abdul Qadir sedang makan bersama muridnya. nah saat itu Syekh Abdul Qodir makan ayam yang merupakan makanan kesukaannya. Syekh Abdul Qodir ketika makan selalu memakan separuh dan menyisihkan separuhnya untuk muridnya. Kemudian timbullah rencana licik dari lelaki tersebut, dia mendatangi bapak murid itu dan bertanya, “bapak punya anak namanya ini?” kemudian bapak itu berkata “ya ada”, kemudian dia mengatakan bahwa anaknya diperlakukan seperti hamba sahaya dan seperti kucing.

 

Maka datanglah bapak itu ke rumah Syekh Abdul Qadir dan setelah mengatakan bahwa beliau telah memperlakukan anaknya seperti kucing dia meminta anaknya kembali karena telah diperlakukan seperti anak kucing, maka kembalilah anak tersebut dan ketika bapaknya mengetesnya anak itu menjawab dengan jawaban yang sangat memuaskan, maka bapak itu menyesalinya dan berniat untuk mengembalikan anaknya kepada Syekh Abdul Qadir.

 

Rupanya beliau mengatakan ” bukan aku tidak mau menerima anak itu kembali, tapi Allah sudah menutup futuhnya untuk mendapat ilmu disebabkan seorang AYAH yang tidak beradab kepada GURU”.

 

Oleh karena itu sebagai orang tua, kita harus bisa menjaga adab anak-anak dan adab orang tua sendiri terhadap gurunya. Jangan sampai gara-gara adab orang tua buruk, sedangkan adab anak sudah baik, maka si anak menjadi santri yang ilmunya tidak barokah karena ketidakridloan guru terhadapnya.

 

Dan semoga karena orang tua dan anak telah menjaga adab kepada guru anaknya membuat kita semua dicintai oleh Allah SWT dan hamba-hambaNya.

 

Begitulah ADAB dalam menuntut ilmu… Anak, Ibu, ayah dan siapa pun perlu menjaga adab kepada guru. Betapa pentingnya adab dalam kehidupan keseharian kita.

 

Kisah di atas merupakan sebuah kisah yang menceritakan seorang ayah yang tidak beradab atau mempunyai adab kepada seorang guru.

 

Bagaimana jadinya kalau diri sendiri yang tiada beradab, memaki dan mengaibkan gurunya.

 

Kata salah satu Ulama : Satu perasangka buruk saja kepada gurumu… Maka Allah haramkan seluruh KEBERKAHAN yang ada pada gurumu kepadamu.

 

Semoga Allah SWT menjadikan kita orang yang beradab kepada makhluknya terlebih lagi kepada guru yang mengajarkan ilmu kepada kita… Aamiin.