MENELADANI TIGA POIN KEINDAHAN AKHLAK MAMA KH. MUHAMMAD ALIYUDIN

Betapa bahagia jika seorang santi mampu meneladani jejak akhlak seorang kyai. Namun, untuk mengikuti sebuah keteladanan, kita mestilah juga mengerti apa saja hal-hal/poin yang bisa kita catat dan kita ambil sebagai panutan dari akhlak seorang kyai.

Berikut ini, catatan singkat tentang keteladanan Akhlak Mama Ajengan KH. Muhammad Aliyudin (Pengasuh Ponpes Al-Hikamussalafiyah, Sumedang & Rois Syuriah PWNU Jawabarat). Harapannya, mudah-mudahan tiga poin ini bisa menjadi pelajaran dan model bagi seorang santri, calon santri, ataupun bagi orangtua yang hendak memasukkan anaknya ke Pesantren.

1) TIDAK PERNAH MENYUSAHKAN ORANGTUA

Mama KH. M. Aliyudin, sejak kecil tidak pernah menyusahkan orangtua. Bahkan, perjalanannya menimba ilmu kira-kira sejak usia 13 tahun sampai 23 tahun dari pesantren ke pesantren (Sumedang, Majalengka, Cirebon, Lirboyo), sangat jarang meminta bekal kiriman dari orangtua. Pun, ketika diberi bekal, kadang bekal tsb malah dikembalikan lagi kepada orangtua beliau (Mama KH. Yahya).

Hal tsb, nampaknya berbeda jauh dengan perilaku kita, yang telat kiriman sehari saja dari orangtua, terasa gelisah dan terus menerus menelpon/berkirim surat minta segera dikirimi bekal. Bahkan tak jarang, mungkin kita sampai marah-marah dan sebagainya pada orangtua kita, hanya karena bekal kiriman tidak datang sesuai tanggalnya.

2) IKHLAS PRIHATIN, RENDAH HATI, DAN JAUH DARI BERMEWAH-MEWAHAN

Mama KH. Muhammad Aliyudin adalah sosok ulama yang rendah hati dan sederhana. Hal itu bisa dilihat dari cara berpakaian atau bertutur katanya. Kesederhanaan dan kerendahan hati itu ternyata sudah ada sejak Mama Kyai nyantri. Karena tidak mau menyusahkan orangtua, saat nyantri dari pesantren ke pesantren, beliau rela berjualan odading, tahu, membantu Kyainya mengelola sawah, berkebun, menjadi juru tulis kitab, dsb. Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup (bekal) saat belajar.

Akhlak tsb, kiranya juga jauh berbeda dengan gaya hidup kita. Sebagai santri, kadang kita berlomba-lomba menggunakan baju bagus dan bermerk, bermalas-malasan mengaji, dan kadang menggerutu jika menu makan di pesantren itu-itu melulu.

3) MENCARI ILMU ATAS KEMAUAN DAN KESADARAN DIRI SENDIRI

Banyak orang yang masuk ke pesantren. Tapi sedikit orang yang benar-benar berniat mencari ilmu. Pesantren kadang hanya jadi bengkel anak nakal. Seringkali juga jadi pelarian, karena tidak diterima di sekolah favorit. Atau berapa banyak anak yang masuk ke pesantren karena paksaan orangtua. Hal itulah barangkali yang menyebabkan tidak setiap santri sungguh-sungguh dalam menimba ilmu saat di pesantren.

Mama KH. Muhammad Aliyudin, tidaklah demikian. Beliau menimba ilmu atas kesadaran diri sendiri yang sejak kecil sudah merasakan pentingnya menjadi orang yang berilmu, terutama ilmu agama. Beliau belajar dan nyantri, tidak dalam paksaan siapa-siapa. Hal inilah, yang membuat beliau memiliki semangat dan bertahan belajar bertahun-tahun meski prihatin dan perjuangannya tidak mudah.

Itulah barangkali tiga poin yang bisa kita jadikan teladan dalam mencari ilmu dan keberkahan hidup. Sebetulnya masih banyak poin yang bisa kita jadikan rujukan dan panutan. Namun saat ini, kisah lengkap dan mutiara keteladanan hidup Mama Kyai sedang dalam proses penulisan, yang mungkin juga membutuhkan waktu tidak sebentar untuk benar-benar memotretnya dengan cukup baik dan sesuai. Selain itu, tiga poin ini jika direnungkan dan diamalkan oleh kita selaku santri juga sudah sangat cukup sekaligus sangat susah, apalagi yang lainnya.

Semoga bermanfaat.

(Jamil Abdul Aziz, Cimahi 1441H)
Cc: Pesantren Al-Hikam Mussalafiyyah

 2,723 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *