MESJID TIDAK SEPI: IA ADA BAHKAN BERLIPAT GANDA

Bulan ramadhan kali ini, kita semua sedang di uji oleh sang Maha menghadapi wabah yang begitu cetar dan membahana bahkan mengguncangkan dunia.

Ia bernama virus corona atau biasa di sebut COVID-19. Yang telah mengubah rumah-rumahnya di bulan suci yang biasa ramai menjadi sunyi.

Kiyai Sa’dulloh (mudir tahfidz ponpes Al-hikamussalafiyyah Sumedang) mengatakan “Ini sesungguhnya rapid test bagi orang-orang yang beriman”. Rabu, (30/04).

Apakah kita masih punya stamina untuk melaksanakan terawih dan tadarus meski dalam keadaan sendiri karna adanya pandemi ini, ataukah justru kita meninggalkannya?! ” Pungkasnya.

Korona adalah makhluk Allah SWT, yang tak akan lepas dari hisab atas pembuatannya. Akankah ia mendapat siksa yang pedih sebab telah membuat rumahnya sepi?

Ataukah justru kita sebagai manusia yang akan di mintai pertanggungjawaban terkait bagaimana menyikapi kondisi ini?

Emha Ainun Najib, tahun 1987 pernah menulis puisi tentang mesjid. Yang kiranya menarik kita tarik di era pandemi ini sebagai refleksi :

Mesjid itu dua macamnya
Satu ruh, lainnya badan
Satu diatas tanah berdiri
Satu bersemayam dihati
Mesjid batu bata
Berdiri di mana-mana
Mesjid sejati
Tak menentu tempat tinggalnya

Dari puisi itu, kita tahu bahwa korona hanya mampu mengosongkan mesjid batu bata yang berdiri diatas tanah. Mesjid yang akan kita bangun dalam situasi pandemi ini yaitu ada dalam ruh kita. Yang tidak akan pernah mampu di runtuhkan dan di kosongkan oleh siapapun, kecuali kita sendiri yang menghancurkan nya dan mengosongkannya.

Di hadapan Allah SWT, mungkin korona punya dalih bahwa ia justru melipat gandakan rumahnya melebihi jumlah kasus positif yang ada. Kini setiap rumah menjadi mesjid, menjadi tempat ibadah.

“Maka dari itu, ikhtiar yang sedang dilakukan pemerintah saat ini bermula social distencing, trus Pembatasan sosial bersekala besar (PSBB) dan yang lainnya sangatlah tepat guna memutus penyebaran virus Covid-19”. Tandasnya

“Yang terpenting kita saling kerjasama, saling peduli, saling menyadari satu sama lain. Supaya kita bisa seperti sedia kala. Tetaplah di rumah, perbanyaklah berdo’a dan jadikan rumah kalian tempat beribadah seperti halnya mejid” Tutup kiyai Sa’dulloh.

*Jamil Abdul Aziz

 14,301 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *